Minggu, 13 Juli 2014

IDENTIFIKASI BENTUKLAHAN DAN PROSES GEOMORFOLOGI SUNGAI PROGO DI DESA CANDIREJO, BRORBUDUR, MAGELANG
Achmad Fadhilah
Jurusan Pendidikan Geografi, FIS, UNY.
Abstrak
Berbagai bentuklahan dan proses geomorfologi dapat kita alam di sekitar kita. Salah satu contoh bentuklahan dan proses geomorfologi terdapat pada aliran Sungai Progo. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuklahan  asal prses fluvial di Sungai Progo yang berada di Desa Candirejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelnga, Jawa Tengah. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis yang mengacu pada sumber-sumber literatur dan citra satelit. Hasil dari penelitian ini dapat diketahui bahwa Sungai Progo di Desa Candirejo memiliki variasi bentuklahan asal proses fluvial. Hal tersebut dicirikan oleh bentuklahan yang dihasilkan antara lain: pola aliran meander dan braided stream, point bar, dan dataran banjir. Aliran Sungai Progo di Desa Candirejo merupakan sungai berstadium dewasa dan termasuk zona transportasi. Ditandai dengan adanya pengangkutan muatan sungai oleh aliran berupa muatan dasar (bed load) dan muatan tersuspensi (suspended load). Namun demikian, pada Sungai tersebut juga berlangsung proses erosi dan deposisi.
Kata kunci: bentuklahan, proses geomorfologi, Sungai Progo, fluvial.
Pendahuluan
Salah satu cabang dari ilmu kebumian adalah kajian mengenai bentuklahan atau geomorfologi. Di dalam kajian geomorfologi terdapat berbagai macam sub-kajian sesuai bentuklahan yang dibahas. Bentuklahan yang dihasilkan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang merupakan konsep dasar dalam geomorfologi. Misalnya perkembangan suatu bentuklahan dipengaruhi oleh intensitas proses fisis yang berlangsung pada suatu bentuklahan. Intensitas proses fisis tidak selalu sama setiap waktunya. Sehingga akan menghasilkan bentuklahan yang berbeda pula. Perkembangan bentuklahan  juga tidak terlepas dari struktur geologinya yang merupakan faktor penentu utama dalam evolusi bentuklahan.  Struktur geologi akan mempengaruhi kecepatan perkembangan bentuklahan. Faktor lainnya adalah proses-proses geomorfik yang berbeda terhadap bentuklahan. Masing-masing proses geomorfik tersebut akan mengembangkan karakteristiknya sendiri-sendiri. Hal tersebut juga akan menghasilkan bentuklahan yang berbeda.
Dari beberapa faktor atau konsep dasar di atas berbagai bentuklahan dapat dihasilkan. Salah satunya adalah bentuklahan fluvial. Dari uraian di atas juga dapat diketahui sedikit gambaran perkembangan bentuklahan fluvial yakni dengan menghubungkan konsep dasarnya. Meski demikian, perlu dilakukan observasi lapangan dan dekskripsi berdasarkan kajian pustaka untuk mengetahui perkembangan bentuklahan fluvial. Observasi lapangan dilakukan untuk melihat secara langsung keadaan suatu bentuklahan yang akan diteliti. Kegiatan tersebut juga dilakukan untuk mengumpulkan data-data yang akan diteliti. Sedangkan deskripsi berdasarkan kajian pustaka dilakukan dengan cara menyesuaikan data dengan teori-teori yang sudah ada dan sesuai dengan kaidah ilmiah yang berlaku.  Kemudian akan didapat penjelasan dan kesimpulan yang berisi hasil dari observasi lapangan.
Berkaitan dengan penulisan artikel ini, penulis berusaha menjelaskan bentuklahan fluvial khususnya bentuklahan fluvial sungai progo di Desa Candirejo Borobudur Kabupaten Magelan dengan cara mendeskripsikan kondisi bentuklahannya dengan kajian pustaka yang dipelajari. Kajian pustaka yang dipelajari berasal dari sumber-sumber buku yang relevan dan reliabel, jurnal ilmiah, dan diktat kuliah.
Kajian Pustaka
Awal mula terbentuknya bentuklahan fluvial
Proses pembentukan bentuklahan fluvial diawali dengan turunnya hujan yang jatuh ke permukaan tanah. Air hujan diserap oleh lapisan tanah(infiltrasi). Ketika tanah tidak mampu lagi untuk melakuan infiltrasi air hujan, maka jatuhan air hujan akan menjadi limpasan yang mengalir kesegala arah (overland flow) Sedikit demi sedikit jatuhan hujan akan mengikis permukaan tanah dan mulai terbentuk alur-alur(rill). Proses selanjutnya adalah alur-alur akan terkikis dan berubah menjadi parit (gully). Pengikisan semakin hebat terjadi pada sisi samping dan dasar gully hingga menjadi semakin lebar dan dalam hingga akhirnya menjadi sebuah lembah (valley). Limpasan air yang berasal dari air hujan yang tdak terserap tanah kemudian mengisi bagian lembah dan menjadi aliran permanen, Selain berasal dari limpasan permukaan, air juga berasal dari rembesan pada dinding lembah setelah sebelumnya terinfiltrasi oleh tanah. Kemudian, air tanah yang berada pada zona jenuh air akan keluar melalui sisi samping lembah bahkan pada dasar aliran. Pada saat inilah mulai terbentuk aliran sungai yang mengalir secara terus menerus.
Konsep bentuklahan fluvial.
Bentuklahan fluvial merupakan bentuk lahan yang berhubungan dengan proses kerja aliran sungai. Bentuklahannya meliputi  penimbunan sedimen dan lembah sungai besar dan untuk menyatakan cakupan wilayanya dikenal istilah Daerah Aliran Sungai (DAS). Proses yang berlangsung pada bentuklahan fluvial antara lain yaitu:erosi, transportasi, dan deposisi (Charlton, 2008). Masing-masing proses mempunyai wilayah atau zona tersendiri dan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Karakterisitik proses erosi terdapat pada sungai berstadium muda. Menurut Lobeck (dalam Lobeck, 1939) sungai berstadium muda merupakan aliran yang memiliki kecepatan dan volume yang mampu untuk mengangkut muatan sedimennya dan pada saat bersamaan mampu untuk mengerosi salurannya. Berdasarkan definis Lobeck tersebut, maka sungai muda dapat dijumpai pada daerah hulu. Karena pada daerah tersebut gradiennya besar sehingga berpengaruh pada kecepatan yang tinggi pula. Kecepatanya yang tinggi tersebut mampu mengerosi material yang berada di sekitar aliran.
Wilayah proses transportasi dapat dijumpai pada wilayah sungai berstadium dewasa. Pada wilayah tersebut, gradien sungai sudah mulai landai. Kekuatan untuk mengerosi pun berkurang. Namun, kekuatan aliran masih mampu untuk mengangkut muatan hasil dari erosi di bagian hulu. Proses selanjutnya adalah pengendapan muatan aliran atau deposisi. Proses deposisi ini terjadi ketika muatan yang terangkut sudah terlampau banyak dan kekuatan aliran untuk mengangkut muatannya lemah. Pada saat itulah muatan sedikit demi sedikit diendapkan. Proses deposisi ini biasanya banyak dijumpai pada sungai berstadium tua.
Namun demikian, proses tersebut tidak mesti terjadi pada satu wilayah yang tertentu saja. Bisa saja di wilayah transportasi dapat terjadi proses erosi bahkan deposisi. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: gradien sungai dan jenis muatan angkutan. Gradien sungai sangat mempengaruhi proses fluvial karena tingkat kemiringan suatu aliran akan menentukan kecepatan aliran sungai. Semakin besar gradiennya, maka semakin cepat aliran yang mengalir. Hal tersebut berimplikasi pada kekuatan aliran untuk mengerosi material yang semakin besar. Sebaliknya, semakin kecil gradiennya, maka semakin rendah kecepatannya alirannya dan kemampuan untuk mengerosi juga semakin berkurang.
Material yang terangkut akan mempengaruhi bentuklahan fluvial yang dihasilkan dan proses yang sedang berlangsung. Jenis muatan dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: suspended load, bed load, dan dissolved load. Muatan dasar (bed load) terdiri dari batuan-batuan kecil dan sedang serta kulit batuan yang baru terkelupas hasil dari proses pelapukan. Material-material tersebut mempunyai ukuran dan massa yang besar sehingga hanya berguling atau melompat-lompat di dasar sungai. Gerakan dari muatan dasar dengan kecepatan aliran yang tinggi mampu mengikis dasar aliran sungai dan membuat sungai semakin dalam . Sedangkan, apabila tenaga pengangkut mulai melemah, maka kekuatan muatan dasar untuk mengikis dasar aliran menjadi berkurang dan muatan tersebut mulai terendapkan. Endapan dari material dasar yang sudah terlampau banyak dan mencapai permukaan aliran akan diterobos oleh aliran permukaan yang masih kuat dan membentuk pola aliran teranyam atau (braided stream). Muatan selanjutnya adalah muatan tersuspensi (suspended load). Dari asal katanya, suspend berarti menunda, menunda untuk diendapkan. Muatan yang terangkut akan ditunda pengendapannya dan hanya melayang-layang dan digerakan oleh turbulensi arus di dalam aliran. Muatan tersuspensi terdiri dari partikel debu, pasir, dan lempung yang memiliki bentuk yang kecil dan massanya ringan. Akumulasi muatan tersuspensi yang banyak akan menyebabkan kecepatan aliran berkurang dan tenaga untuk mengerosi juga berkurang. Oleh karena itu, muatan tersuspensi hanya mampu mengikis secara lateral (menyamping). Akibat erosi lateral tersebut, maka akan membentuk aliran yang berkelok-kelok atau meander stream. Jenis muatan  yang ketiga adalah materil terlarut (dissolved load). Muatan tersebut berupa ion-ion yang tidak nampak dan tidak terlalu berpengaruh terhadap proses erosi.
Bentuklahan hasil proses fluvial
Proses fluvial akan menghasilkan suatu bentuklahan yang disebut bentuklahan fluvial (fluvial landform). Hal tersebut sesuai dengan konsep geomorfologi bahwa proses-proses geomorfik yang berbeda akan meninggalkan jejak tertentu pada bentuk lahan dan masing proses geomorfik akan mengembangkan himpunan karakteristiknya sendiri. Berdasarkan konsep tersebut juga menyebabkan variasi bentuklahan fluvial. Variasi bentuklahan fluvial disebabkan oleh agen-agen yang bekerja terhadapnya. Ada beberapa bentuklahan yang dihasilkan dari proses fluvial, antara lain:
1.      Kipas aluvial (aluvial fans)
Kipas aluvial adalah bentuklahan hasil dari akumulasi  sedimen yang telah diendapkan akibat adanya aliran dari daerah atas yang berarus deras menuju daerah datar sehingga sedimen akan menyebar dan terendapkan menyerupai kipas (Schumm dkk., 1987). Proses terbentuknya kipas aluvial diawali apabila muatan sungai sudah terlampau banyak mengalir ke daerah rendah dan terdapat perbedaan derajat kemiringan. Akibat perbedaan kemiringan tersebut, muatan akan terendapkan dan tersebar. Kipas aluvial dicirikan oleh sistem distribusi alur yang radial dan teranyam (braided). Dimulai pada daerah lembah yang sempit akan terbentuk kepala kipas (apex). Kemudian berangsur-angsur ke bawah anyamannya menjadi semakin besar. Muatan yang diendapkan didominasi oleh muatan dasar (bed load) terutama gravel. Karena kipas aluvial berada di daerah yang relatif datar, maka material yang kasar akan di bagian atas. Sedangkan material yang lebih halus diendapkan di bagian yang lebih bawah.
2.      Crevasse-splays
Crevasse-splays merupakan bentuklahan hasil endapan yang masuk ke dalam celah-celah yang sejajar dengan lengkunga sungai (belokan sungai). Bentuklahan tersebut terbentuk apabila banjir besar menghantam dinding lengkungan sungai bagian luar yang rendah. Akibat kecepatan aliran yang sangat kuat, lekukan tersebut terpotong dan membentuk celah atau crevasse. Sedimen yang terangkut kemudian meluap`ke dataran banjir membentuk lidah sedimen.

3.      Dataran banjir (floodplain).
Dataran banjir adalah bentuklahan hasil dari deposisi aliran yang paling umum dijumpai (Morisawa, 1968). Hasil endapan material sungai yang terbetuk karena adanya perpindahan arus ke arah lengkungan luar (outer band). Pada bagian dalam lengkungan yang berarus lemah, material sedimen terendapkan dan membentuk sedimen yang berbentuk bulan sabit. Dataran banjir ini mencakup daerah yang luas dan merupakan produk utama dari proses fluvial (Thornbury, 1969).
4.      Teras Aluvial
Teras aluvial dalah bentuklahan yang ditandai oleh adanya dinding tebing yang curam di satu sisi dan lembah di sisi yang lain. Bentuklahan tersebut terbentuk dari pemotongan ke bawah (downcutting) pada lembah yang lebar. Di saat yang bersamaan, terjadi erosi lateral pada sisi samping lembah. Sehingga akan menyebabkan arus sungai berpindah ke tempat yang lebih rendah. Sedangkan, pada bagian lembah yang lebih tinggi terbentuk teras aluvial.
5.      Point Bar
Point bar merupakan akumulasi deposisi sedimen sungai yang biasanya terdapat pada sungai dengan pola meandering. Deposisi sedimen terjadi pada bagian dalam lengkungan sungai (inner band) yang memiliki arus yang mengalir lemah. Sedangkan pada sisi luar (outer band), terjadi erosi menyamping karena pada bagian tersebut arus yang mengalir kuat dan mampu untuk melakukan erosi lateral pada dinding sungai.
6.      Delta
Delta merupakan bentuk lahan deposisional yang terbentuk pada muara sungai dimana akumulasi sedimen dihasilkan secara tidak teratur sepanjang garis pantai (Coleman, dalam ritter dkk., 1995). Delta mirip dengan kipas aluvial. Hanya saja pengendapan pada delta berlangsung di muara sungai yang berbatsan dengan tubuh air yang luas.



Bentuklahan Asal Proses Fluvial Sungai Progo di Desa Candirejo Borobudur Magelang
Sungai Progo merupakan salah satu aliran sungai yang melewati wilayah Kabupaten Magelang. Daerah Aliran Sungainya membentang dari Kabupaten Temanggung hingga bermuara di Pesisir Selatan Kulonprogo. Beberapa anak sungainya mempunyai hulu di sekitar Gunung Merapi dan Merbabu. Sehingga sebagian muatannya berasal dari hasil erosi pada kedua daerah tersebut. Proses terbentuknya Sungai Progo diawali oleh hujan yang jatuh di bagian hulu di sekitar Temanggung. Kemudian setelah tanah tidak lagi mampu menyerap air hujan, maka air hujan tersebut menjadi limpasan yang mangalir di atas permukaan tanah (overland flow), Limpasan tersebut perlahan mengikis permukaan dan terbentuklah alur-alur(rill). Pada alur yang lebih besar akan terbentuk parit (gully). Proses selanjutnya parit tersebut terus-menerus tererosi sehingga semakin dalam dan melebar membentuk lemabh (valley). Pada lembah itulah air yang berasal dari limpasan maupun rembesan akan terkumpul menjadi aliran sungai. Aliran pada daerah hulu akan banyak mengerosi dan hasilnya akan diangkut menuju bagian yang lebih rendah dalam hal ini di angkut menuju Sungai Progo di Desa Candirejo.
Secara umum, bentuklahan Sungai Progo di Desa Candirejo merupakan daerah transportasi dan tergolong sungai dalam fase stadium dewasa. Namun, di daerah tersebut juga terdapat proses erosi dan sedimentasi. Hal tersebut dipengaruhi oleh gradien lembah yang berada di Desa Candirejo sudah relatif landai. Sehingga mempengaruhi kecepatan dan kekuatan aliran menjadi berkurang. Faktor muatan yang terangkut juga mempengaruhi proses yang sedang berlangsung pada derah tersebut. Muatan dasar yang memiliki massa yang sedang akan mudah terendapkan maka terjadilah deposisi sedimen muatan pada daerah transportasi tersebut. Nmaun, jika muatan dasar terangkut oleh aliran yang kuat maka akan mampu untuk mengerosi bagian dasar sungai. Terjadilah proses erosi dasar sungai yang membuat sungai semakin dalam. Pada muatan yang tersuspensi dan tenaga pengakutnya emah, maka erosi hanya secara menyamping (lateral).
Dari proses tersebut dapat membentuk variasi bentuklahan di Sungai Progo. Kombinasi antara muatan dasar yang terendapkan dengan aliran yang lemah maka akan membentuk pola aliran yang teranyam. Pada pola ini, aliran yang sudah tidak mampu membawa muatan dasar akan menerobos dan membentuk celah-celah aliran. Namun, pada akhirnya celah tersebut akan kembali pada satu titik aliran. 
Selain pola aliran teranyam, pada Sungai Progo juga dapat ditemukan pola aliran berkelok (meander stream). Prosesnya dipengaruhi oleh kombinasi antara muatan yang terangkut dan kecepatan aliran. Muatan yang terangkut adalah jenis muatan tersuspensi (suspended stream) yang berupa debu, lempung, dan pasir. Muatan tersebut bergerak melayang-layang di dalam aliran akibat adanya turbulensi arus. Pada saat bersamaan, kecepatan aliran pengangkut berkurang yang disebabkan oleh banyak muatan dan gradien yang relatif datar. Sehingga menyebabkan tenaga untuk mengerosi berkurang dan hanya mengerosi ke arah samping. Proses tersebut terus berulang dan membetuk kelolan-kelokan aliran. Namun demikian, meander stream yang terdapat  pada Sungai Progo di Desa Candirejo tidaklah terlalu berkelok. Hal ini karena masih dipengaruhi oleh jumlah muatan tersuspensi tidak terlalu banyak dan muatan alirannya didominasi oleh muatan dasar (bed load) yang menjadi agen utaman erosi dasar aliran dan pembentukan aliran teranyam (tergantung kekuatan aliran dan jumlah muatan dasarnya).
Pada aliran sungai berpola meander dapat dijumpai bentuklahan hasil endapan sedimen yang disebut point bar. Bentuklahan serupa dapat dijumpai pada Sungai Progo di Desa Candirejo. Seperti yang terlihat pada Gambar 01. Point bar tersebut terbentuk oleh pengendapan muatan aliran yang lemah pada bagian dalam lengkungan (inner band). Sedangkan, aliran yang kuat menuju ke bagian luar lengkungan (outer band) dan mengerosi secara lateral. Kebanyakan material yang terkumpul berupa gosong-gosong pasir yang terkumpul dalam satu titik Mak dari itu bentuklahan yang dimaskud dinamakan point bar (titik kumpul gosong-gosong).
Bentuklahan selanjutnya adalah dataran banjir. Proses terbentuknya hampir sama dengan point bar namun dalam jumlah yang banyak dan wilayah yang luas. Dataran banjir di Sungai Progo ini dipengaruhi oleh morpologi lembah sungai yang datar. Biasanya terdapat pada sungai berstadium dewasa yang memiliki banyak dan tenaga pengangkutnya mulai berkurang. dima erosi yang berlangsung adalah erosi lateral. Erosi lateral tersebut terjadi pada sisi luar lengkungan dengan aliran yang kuat. Sebaliknya, pada bagian dalam aliran yang mengalir lemah dan mengendapkan sedimen muatan sedimen inilah yang terkumpul menjadi dataran banjir.

Kesimpulan
Bentuklahan asal proses fluvial Pada Sungai Progo di Desa Candisari dicirikan oleh berbagai variasi bentuklahan antara lain:pola aliran meander dan braided stream, point bar dan dataran banjir. Sungai Progo di Desa Candisari merupakan sungai berstadium tuda dan termasuk dalam zona transportasi. Meski demikian, pada daerah tersebut juga dapat terjadi proses erosi dan deposisi. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor gradien dan muatan yang terangkut. Kedua faktor tersebut juga berpengaruh terhadap pembentukan pola aliran baik meander stream maupun braided stream.
DAFTAR PUSTAKA
Lobeck, A.K.. 1939. Geomorphology An Introduce to the Study of Landscapes. New York: McGraw-hill Book Company, Inc.
Morisawa, Marie. 1968. Streams Their Dynamics and Morphology. New York: McGraw-hill Book Company, Inc.
Schumm, Stanley A.. 1987. Experimental Fluvial Geomorphology. New York: New York:John Willey and Sons, Inc.
Thornburry, Willian D.. 1969. Principles of Geomorphology Second Edition. New York:John Willey and Sons, Inc.
Ashari, Arif. 2013. Bahan Kuliah 4 Fluvial Geomorphology. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Geografi FIS UNY.

Sumber gambar 02 dan 04: maps.google.com. Diakses pada 04 November 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peta Pengunaan Lahan di Kabupaten Bantul

View larger map